Sepotong kebutuhan untuk selalu merenung tentang diri dan kemanusiaan yang tersisa, tentang kesendirian dan luka yang selalu menganga sebagai warga kota, tentang hiruk pikuk peradaban dan keberanian untuk selalu menggugatnya. Renungan memang selalu bisa berlabuh di mana saja.Tapi seluruh nafas untuk menggerakkan perjalanan sebuah renungan selalu berawal dari pikiran. Jadi dari mana pikiran selalu dipelihara, diolah atau digugat untuk diruntuhkan?
ROSEBUD, Café and Salon de The
Jl. KH Achmad Dahlan 31
Gandaria-Jakarta Selatan banyubening2000@yahoo.com
|
 |
| |
Friday, September 28, 2007 |
kepingan-kepingan waktu menjadi puzzle-puzzle yang berserak.aku tak mengenal lagi gambar-gambar yang dulu begitu kukenal dengan sempurna.ingatan menjadi pepat dan melelahkan.aku berdiri diantara hatiku sendiri dan udara tempatku melukis hidup.aku menjadi bayangan buram bagi diriku sendiri, bayangan yang menyisakan sesak dengan sebuah noktah kecil bernama mimpi.
Posted at 10:26 am by Noviana
Permalink
| |
Tuesday, September 13, 2005 |
Tuhan , Hidup dan Kematian
TUHAN, HIDUP dan KEMATIAN
Rosebud Club
Jl. KH Achmad Dahlan 31
Gandaria-Jakarta Selatan
(putaran ke dua sesi sahabat-film Rosebud.Club)
Konon peradaban tertinggi dari bangsa atau suku apapun di dunia adalah saat ketika mereka berhasil mengurai sekaligus menuai pemikiran tentang berkeTuhanan. Bukan karena Tuhan memiliki hak atas hidup dan kematian sebagaimana pengertian yang kita kenal dalam agama Monotheisme, akan tetapi sebaliknya justru dalam kenyataan hidup yang jauh dari kuasa Tuhan maka pengertian berkeTuhanan ditemukan. Dan dalam perjalanan menemukan “Tuhan” tadi, maka kematian diterima, bukan sebagai titik akhir, tetapi justru titik awal yang akan menentukan bagaimana hidup selanjutnya dari peradaban tersebut berlangsung.
3 film akan disajikan dari sesi ini untuk melihat bagaimana peradaban dari 3 wilayah bercerita tentang perjalanan mereka menemukan dan mengolah pengertian hidup, mati sekaligus berTuhan.
Kamis 6 October 2005 jam 19.00 :
Divine Intervention
Kamis 13 October 2005 jam 19.00 :
The Apostle
Kamis 20 October 2005 jam 19.00
Taste of Cherry
Sinopsis:
DIVINE INTERVENTION
Sebuah kronik yang menarik dari sebuah pengertian berTuhan ketika harus berhadapan dengan kenyaan hidup yang paling sederhana, cinta, hubungan keluarga, bertetangga, sampai pada kenyataan yang paling pahit, perang dan hak untuk bernegara. Mengambil latar belakang kehidupan sehari-hari di sebuah wilayah yang berbatasan antara Palestina dan Yerusalem, film ini mendapatkan perhatian besar pada Festival Cannes 2002. Disutradarai oleh Elia Suleiman.
THE APOSTLE
Bukan atas nama Tuhan bahwa energi hidup dan mati digariskan. Sebaliknya atas nama sebuah cinta, tiba-tiba Tuhan bercerita tentang keindahan wanita, possesivitas cinta, kebosanan, kemarahan, balas dendam yang memaksa kita untuk lemihat kembali kuasa Tuhan atas hidup. Satu karya puncak dari Robert Duvall, dimana dia sendiri memainkan peran utama, film ini menuai banyak award dalam beberapa festival film.
TASTE OF CHERRY
Kematian tidak berujung ketika kuasa Tuhan memutuskan untuk mengakhiri hidup seorang insan manusia. Sebaliknya kematian adalah saat ketika manusia berdiri dengan seluruh martabat dan harga dirinya untuk menyambut keberaniannya sendiri menyongsong kebesaran pikiran tentang hidup. Sebuah film meditative tentang hidup, kematian, dan Tuhan. Memenangkan Palm d’Or pada Cannes 1997, Kiarostami memperpanjang goresan namanya dalam perjalanan Iran mengokohkan peradabannya sendiri.
Posted at 10:35 pm by Noviana
Permalink
| |
Sunday, September 04, 2005 |
APA YANG MASIH BISA DICERNA dalam hub laki2 dan perempuan?
APA YANG MASIH BISA DICERNA dalam
HUBUNGAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN?
Rosebud Club
Jl. KH Achmad Dahlan 31
Gandaria-Jakarta Selatan
(putaran pertama sesi sahabat-film Rosebud.Club)
Mitologi agama selalu membuat kita tertipu daripada percaya. Laki-laki tidak begitu saja mendapatkan legitimasi divinitas dengan diciptakannya Adam yang kemudian memberikan tulang rusuknya untuk dijadikan sebagai teman hidupnya, Hawa, untuk kemudian keduanya mengarungi samudera hidup sarat iblis dan godaan.
Kenyataan hubungan laki-laki dan perempuan selalu bercerita lain, mungkin bias dekat dengan mitologi di atas, atau mungkin malah tak berhubungan sedikitpun dengan proses penciptaan maupun penghianatan atas kuasa Tuhan. Apalagi kalau hubungan tersebut kemudian diterakan dalam bingkai artistic yang selalu bias berujud apa saja; musik, roman, lukisan, film, dsb. Dan celakanya bingkai tersebut selalu berdalih bahwa kuasa yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan adalah cinta. Dan sekali lagi cinta. Maka kemudian apa yang kita bias lihat dari sebuah perjalanan kemanusiaan atas nama cinta?
Putaran pertama dari sesi sahabat-film Rosebud.Club akan diawali dengan pilihan untuk mengangkat tema hubungan laki-laki dan perempuan. 6 film akan mengawali sesi ini dengan membagi dalam 3 kelompok waktu atau 2 kelompok pespektif (romantic dan satiric).
Dalam waktu akan dibedakan 3 periodisasi yaitu era 40an, dengan kerangka perang dunia dan imigrasi internasional untuk mencari kedamaian atau kemudahan hidup; yang diwakili oleh film yang memitoskan perempuan dengan kecantikan, ketidakberdayaan, sekaligus kekuatan untuk menaklukkan laki-laki, sementara mitos laki-laki ditampilkan dalam keteguhan hati sekaligus kerapuhan, kesombongan sekaligus ketidakberdayaan untuk hisup sendiri.
Peridosasi berikutnya diambil ketika kenyataan hidup yang diperjuangkan oleh perang mulai mengambil bentuknya dalam hidup perkotaan dengan konteks dunia industri modern. Dua film yang akan ditampilkan Periodisasi terahir mengambil latar belakjang ketika kungkungan mitologi agama ataupun dominasi perasaan cinta tidak lagi menjadi kekuataan utama hubungan laki-laki dan perempuan.
Jadwal pemutaran:
Kamis 8 september 2005 jam 19.00 :
Casablanca & Annie Hall
Kamis 15 september 2005 jam 19.00 :
Gilda & Closer
Kamis 8 september 2005 jam 19.00 :
Last Tango in Paris & She Hates Me
Sinopsis:
SESI ROMANTIK
CASABLANCA (1941)
Terlalu banyak sudah ulasan yang diberikan untuk film ini. Bukan hanya karena sisi romantisme kegagahan laki-laki dan kejelitaan perempuan yang disatukan oleh asmara, tetapi oleh epik tentang resistensi pejuang untuk menolak kekuasaan Nazi yang menjadi seluruh aroma perjuangan dunia Eropa pada periode tersebut. Cinta mungkin adalah segalanya, tetapi hati nurani yang selalu dipertaruhkan atas nama kebenaran dan kepentingan rakyat banyak, selalu mampu bertindak dengan nalar dan ketinggian hati. Dibintangi oleh Humphrey Bogart, Ingrid Bergman, dan Paul Henreid di bawah sutradara Michael Curtiz.
LAST TANGO IN PARIS (1972)
Bahwa film ini mengundang kontroversi karena tubuh mulai menemukan definisinya yang baru dalam dunia modern, tidak mungkin dipungkiri. Tetapi yang berharga untuk dilihat bahwa dalam pergulatan tubuh untuk menemukan definisinya tersebut, ternyata laki-laki maupun perempuan tidak menemukan apa-apa kecuali sebuah ruang besar bernama kepahitan dan kekosongan. Maka adegan terakhir ketika Brando tertembak di sebuah ruang tamu Parisian, dan ia berhasil menemukan pintu untuk menghirup udara bebas, justru kematian datang memeluknya. Dan tubuh dan kematianpun kemudian menjadi kuasa lain, bukan lagi milik Tuhan. Dibintangi oleh Marlon Brando, Maria Schneider dan disutradarai oleh Bernardo Bertoluci.
CLOSER (2004)
Semakin menjauh dari moralitas Tuhan sekaligus semakin dekat dengan tubuh yang semata-mata adalah potret penuh kekosongan dari dunia modern. Tiba-tiba kita seperti tak lagi dalam orbit baik dan buruk ataupun salah dan benar sebagaimana yang masih kita bias dapatkan dalam dua periodisasi sebelumnya. Semua bias terjadi karena tubuh menemukan otonominya sendiri, dan dunia modern memungkinkan otonomi tubuh bergerak dengan irama dan peraturan yang diciptakannya sendiri. Bertemunya laki-laki dan perempuan bukan lagi persoalan cinta, harkat manusia, ataupun hidup dan mati. Laki-laki dan perempuan tak lebih dari gugatan tubuh atas gairah yang pantas dimilikinya! Disutradarai oleh Mike Nichols dengan pemain Julia Roberts, Jude Law, Natalie Portman dan Clive Owen.
SESI SATIRIK
GILDA (1946)
Dianggap sebagai film yang menginisiasi adegan striptease dalam film dengan kemolekan Rita Hayworth, maka film ini bukan hanya bercerita tentang kejelitaan perempuan dan kesombongan laki-laki untuk bersimpuh di hadapan perempuan. Film ini adalah sebuah kisah cinta laki-laki dan perempuan yang bersimpul dari sebuah hubungan kemarahan dan kebencian. Maka konon tidak ada film cinta yang justru mengekploitasi rasa marah dan benci seperti yang kita akan saksikan dalam film ini. Disutradarai oleh Charles Vidor, film ini dibintangi oleh Rita Hayworth dan Glenn Ford.
ANNIE HALL (1977)
Hal menarik yang selalu menjadi obsesi Woody Allen dalam seluruh refleksi yang dituangkan dalam filmnya adalah persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, dan kedua adalah persoalan hubungan laki-laki dan perempuan. Dengan latar belakang pemikiran Yahudi yang begitu dominant, maka Tuhan dan manusia sama persis seperti laki-laki dan perempuan: Kejarlah Daku Kau Kutangkap! Celakanya dalam tradisi Yahudi manusia adalah trandsenden dari ide Subyek yang selalu mutlak dan bernalar, maka laki-laki dalam potret Woody Allen adalah Subyek yang mencoba bernalar tetapi enggan untuk berperasaan. Dan perempuan kemudian seperti Tuhan yang ADA tetapi selalu untuk ditiadakan, Dibintangi sendiri oleh Woody Allen dengan ditemani oleh Diane Keaton.
SHE HATES ME (2004)
Maka perempuan benar-benar tidak ada sebagaimana laki-laki itu sendiri! Yang tersisa hanyalah tubuh dan organ seksual yang selalu bias dimanipulasi untuk apa saja. Cinta ataupun gairah kemudian tak lebih dari sebuah kesediaan untuk bertahan dari sebuah gerusan untuk bertahan dalam tata ruang kota yang selalu pengap, penuh hingar binger, sekaligus menawarkan kesempatan untuk menolak kematian. Dianggap sebagai film controversial yang bercerita tentang hubungan laki-laki dan perempuan, She Hates Me yang disutradarai oleh Spike Lee, menarik untuk disimak di negara yang meletakkan Tuhan di atas segalanya, tetapi nyatanya bangsa selalu dirundung nestapa.
Posted at 09:54 pm by Noviana
Permalink
Catatan setelah pemutaran film Malam di siang hari
Awalnya untuk Lukitasari (sang sutradara) adalah Jawa, dan Jawa adalah sebuah petualangan dalam diam. Maka rumah tua yang hening, sepasang kekasih tua yang tak bergeming, dan sebuah undangan kematian untuk seekor kucing. Semuanya bergerak dalam irama yang dibangun dari gambar kekosongan. Gedung tua, kamar makan, dapur, ranjang, langit, bahkan perasaan terkapar sebagai perempuan dan laki-laki. Tetapi apakah Jawa berawal dari kekosongan?
Disini kemudian semuanya berawal. Karena kekosongan untuk Jawa ternyata bukan semata-mata emptyness atau kesia-siaan yang sempurna. Kekosongan adalah kesediaan untuk bersimpuh di hadapan malam yang gulita, dan tunduk pada pagi yang pekat oleh terik surya, sementara waktu begitu melata. Kekosongan adalah berdiri tunduk pada langit tanpa pernah beertanya mengapa siang begitu meranggas sementara kelam tiba-tiba lenyap dalam pelukan kelam. Artinya menjadi Jawa adalah kesediaan untuk berbicara dengan ruang waktu yang selalu menggeliat dan beringsut dengan lamban mengikuti gerak surya tenggelam oleh malam, oleh Betara Kala. Dan kemudian ruang dan waktu berulang keesokan harinya sampai suatu pengertian tentang diri terwujud dan terasah dalam sunyi, dalam hening, dan dalam keberanian untuk tidak bergeming. Jadi Jawa dalam kisah sepasang kekasih tua adalah bukan hubungan subyek dan obyek yang setiap saat harus digugat untuk kemudian disesali.
Dua antipoda untuk melihat Jawa inilah yang membakar diskusi setelah pemutaran film Malam di siang hari. Luki, mengambil antipoda pertama sementara Romo Kuntara, Emmanuel Subangun dan Wachid Hasyim mengambil antipoda kedua. Persoalan mendasar yang digugat dari Jawa adalah bahasa tembang yang menjadi leitmotiv dari film Luki. Untuk Romo Kuntara, yang ahli sastra Jawa Kuno, maka tembang adalah Jawa dan Jawa adalah tembang. Karena itu kata-kata adalah sacral, sesakral keberanian untuk mendendangkan kekosongan yang selalu berulang, berulang dan berulang. Pada tembang, kelihatan memang Luki meletakkan nafas Jawa tidak di dalam kedalaman kata-kata. Sehingga kesakralan tembang seperti menguap, walaupun dalam gambar dan atmosfir yang dia bangun, kelihatan sekali bahwa dia mencoba untuk berdiri di atas tembang. Tapi tembang, kata-kata dan gambar kemudian menjadi tiga elemen yang berdiri sendiri. Dan Jawa kemudian menguap oleh symbol, yang celakanya seperti digugat oleh Emmanuel Subangun, adalah pinjaman dari kaca mata orang asing untuk melihat Jawa. Maka kemudian pilihan pemakaian symbol Jawa yang bercerita tentang hidup dan kekosongan juga menjadi pusat diskusi. Laki-laki dan bukan perempuan, kehidupan dan bukan kematian, kemarahan dan bukan kesumarahan, adalah titik-titik simpual yang mempertemukan sekaligus menegaskan pandangan yang berbeda tentang Jawa.
Hal menarik dari serentetan diskusi yang ada, kemudian mulai kelihatan dua antipoda yang bergerak di dalam nalar masyarakat kita. Pertama adalah mereka yang merasa masih kenal dengan Jawa - nafasnya, semangatnya, wataknya, nyalinya, keterpurukannya, keberaniannya untuk melanjutkan waktu, dan ini celakanya dinahkodai oleh kelompok “tua”. Sementara antipoda lain adalah mereka yang kenal Jawa dalam bunyi atau nada yang disampaikan oleh orang asing. Maka teks, film, musik, gambar adalah medium yang dipakai bukan untuk berbicara dengan orang Jawa, tetapi medium yang memungkinkan mereka untuk bercakap dengan dunia luar. Jawa memang tidak tertutup, hermetic, dan tanpa bias ditolak menjadi eksotik. Tapi kita kemudian semakin dijauhkan dari kemampun untuk berdiri dan melihat kaki sendiri. Celakanya adalah kelompok “anak muda” yang berdiri teguh untuk membuka dunia, adalah penikmat eksotisme tanah sendiri.
Maka Malam di siang hari bukan hanya berbicara tentang bakat Luki yang telah ditengarai dengan kemenangannya di Italie. Film ini kemudian mempertegas seluruh pertemuan yang pernah diselenggarakan di Rosebud, bahwa kita semakin kehilangan kemampuan untul melihat diri sendiri. Maka dari itu bergabunglah bersama kelompok diskusi Rosebud, mungkin suatu hari pertanyaan seputar film, syair, arsitektur dan ruang, film, musik, atau apa saja yang bergerak di ruang kita sebagai manusia Indonesia selalu bias dirumuskan sendiri. Selamat datang Luki pada pencarian untuk menjadi diri sendiri!
Jakarta, 17 April 2005
Posted at 07:04 pm by Noviana
Permalink
| |
Wednesday, April 06, 2005 |
BERPIKIR, BEKERJA, DAN BERLIBUR
BERPIKIR, BEKERJA, DAN BERLIBUR
BERLIBUR, BERLIBUR, DAN BERLIBUR
Bekerja dan berlibur seperti dua sisi mata uang yang sama tetapi selalu selalu berseberangan. Tapi nilai mata uang itu sendiri bukan pada tertera pada angka yang selalu bisa dibaca pada kedua sisinya. Nilai yang jauh lebih penting sekaligus rumit untuk dimengerti adalah bahwa bekerja dan berlibur tercetak pada sebuah hukum besi bernama produktifitas. Hanya dengan mengenal dan memahami hukum tersebut maka sebenarnya kita tahu mengapa kedua sisi tersebut saling berseberangan.
Konon bekerja awalnya adalah jawaban yang diberikan oleh manusia ketika dia harus melawan kekuasaan alam. Artinya bekerja adalah cara manusia berdialog dengan keterbatasannya ketika berhadapan dengan kebutuhan untuk hidup dibawah kekuasaan alam. Dalam arti ini maka bekerja jauh dari persoalan uang, jauh dari persoalan efisiensi waktu, dan dengan sendirinya sekaligus jauh dari persoalan produktifitas. Bekerja dalam pengertian ini oleh karenanya selalu diletakkan sebagai cara manusia untuk mengolah peradaban kemanusiaannya sendiri.
Kenyataannya peradaban tadi telah mengantarkan manusia pada satu fase dimana bekerja tidak lagi terkait dengan alam dan persoalan keterbatasannya sebagai manusia. Peradaban telah mengantarkan manusia untuk melihat bekerja dalam kaitannya dengan hukum yang jauh berbeda dari yang dia kenal pada kodratnya sebagai mahluk alam. Bekerja telah mempertemukan manusia dengan satu elemen alam yang awalnya kita percaya sebagai milik alam akan tetapi pada perkembangannya telah menjadi milik peradaban itu sendiri, yaitu waktu. Dalam hukum waktu inilah maka seluruh hukum bekerja telah membangun peraturannya sendiri. Produktifitas sebagaimana yang kita kenal dalam bekerja, lahir dari pemahaman seperti ini. Maka bekerja dalam peradaban produktifitas selalu terkait dengan waktu dan uang.
Time is money, kata pepatah asing yang menjadi kredo baku dari peradaban bekerja. Ketika kemudian bekerja semata-mata diukur dalam kapasitasnya untuk menghasilkan uang dan mengefisiensikan waktu ini, maka sebenarnya mata uang bekerja sebagaimana yang kita bicarakan di atas sedang membentuk nilainya sendiri. Bekerja kemudian membangun hukum besinya sendiri yang selalu tak bisa ditawar, bahkan oleh nilai kemanusiaan yang hendak dilahirkan dari peradaban kerja. Ketika bekerja telah mencapai titik kulminasinya sebagai sebuah mata rantai kegiatan produksi, pada tingkat ini maka bekerja tak lebih hanyalah kegiatan survival manusia untuk tunduk di bawah kekuasaan pikiran. Dan anehnya justru dalam tiranitas peradaban yang memuliakan pikiran, manusia kemudian menemukan alamnya yang baru, jauh dari tubuh dan perasaannya sebagai manusia.
Bentuk riil dari kegiatan bekerja dalam hukum di atas adalah rutinitas dari sebuah jadwal kerja dan berakhir pada menerima gaji setiap akhir bulan dan bonus pada akhir tahun. Dan teknologi memungkinkan control penuh atas efisiensi waktu dan uang yang dihasilkan setiap pekerja untuk mengukur jumlah uang yang layak dia terima. Mesin presensi yang dari hari ke hari semakin canggih kemampuannya kontrolnya, harus dilihat sebagai bagian dari peraturan hukum besi produktifitas untuk melihat bahwa tidak ada waktu yang terbuang sekaligus tidak ada uang yang dibayarkan percuma. Atau pendekatan manajemen yang juga sama canggihnya dengan teknologi mesin presensi, hanyalah wajah lain dari peradaban pikiran ketika dia harus sepenuhnya menerima tiranitas waktu dan uang. Wajah lain yang menghantui hukum bekerja dalam kaitannya dengan uang adalah pajak penghasilan yang harus dibayar setiap tahun. Jadi bekerja tak lebih dari memaksimalkan waktu, memaksimalkan pendapatan, yang kemudian ditutup dengan ritus sipil yaitu menunaikan kewajiban membayar pajak pada Negara. Berada penuh dalam irama produktifitas seperti ini, maka berlibur kemudian sepenuhnya menjadi sisi mata uang yang lain dari bekerja.
Celakanya berlibur dalam pengertian ini lahir bukan lagi ketika tubuh penat karena bergerak dan bermandi berpeluh untuk membajak sawah atau memecah batu. Berlibur, ketika diletakkan dalam aturan yang lebih maju, juga bukan semata-mata hak pekerja yang dilindungi Undang-Undang untuk membebaskan dirinya dari hukum besi produktifitas. Jauh lebih penting dari kedua hal di atas adalah kenyataan bahwa berlibur mengembalikan manusia pada peradabannya yang paling dasar sebagai mahluk alam. Bahkan berlibur mengembalikan manusia pada pengertian yang paling hakiki tentang hubungannya dengan waktu dan dengan sendirinya dengan tubuhnya sendiri.
Maka dari itu jangan heran melihat kegilaan turis manca Negara khususnya yang mendewakan matahari dan deburan ombak pantai ketika musim liburan tiba. Jangan pula tertegun ketika tengah malam pun selalu dipenuhi riuh rendah tawa ketika mereka memuntahkan seluruh kerangkeng produktifitas di tengah aroma alcohol dan seks bebas. Dan untuk itu pula jangan bicara moral atau agama ketika Bali atau tempat-tempat liburan lainnya di seluruh dunia dipenuhi semangat membakar sahwat. Mereka tidak semata-mata sedang menikmati musim panas, eksotisme pantai dan laut lepas, atau sedang semata-mata mengumbar nafsu bebas. Turisme adalah gelombang lain dari pekerja yang sedang berupaya merebut waktu dan kekuasaan atas tubuh dari system bekerja. Turisme dalam titik yang paling ekstrim adalah perjuangan pekerja mendapatkan haknya kembali sebagai manusia dan bukan semata-mata alat produksi. Maka berlibur kemudian adalah wujud lain dari pemberontakan manusia atas kekuasaan pikiran. Sehingga matahari, alcohol, seks dalam turisme sebenarnya tak lebih adalah jalan keluar yang membawa manusia keluar dari kontrol peradaban kerja, kontrol pikiran.
Persoalannya keadaan bekerja sebagaimana yang dipaparkan di atas adalah sepenuhnya milik sebuah masyarakat bekerja yang jauh dari kenyataan yang kita kenal sehari-hari. Bekerja untuk kita adalah persoalan lain, yang bisa dekat atau bahkan sangat jauh dari alam tetapi tak ada hubungannya dengan produktifitas untuk menghasilkan uang dan efisiensi waktu. Apalagi untuk membayar pajak. Bekerja untuk sebagian besar masyarakat kita adalah bagian dari sebuah ritus social untuk menjadi orang dewasa. Jadi membajak sawah, menjadi pialang saham, atau menjadi anggota legislative jangan diletakkan dalam bobot yang sama dengan pekerjaan yang sama untuk masyarakat di belahan bumi yang lain.
Dalam pengertian bekerja yang sebenarnya begitu jauh berbeda inilah, kultur berlibur singgah, hinggap, dan berkembang biak di masyarakat kita. Tentu saja dengan menambil bentuk dan watak yang lain. Kita memang menjumpai banyak turis local berjalan-jalan di pantai dan menembus gelombang ombak, tetapi bukan untuk menyapa dan menggapai alam. Mereka ke Kuta, Senggigi, atau Bunaken, karena tempat-tempat itu dikunjungi turis mancanegara. Kita memang melihat banyak muda-mudi ikut berjingkrak di kelab malam sambil menebarkan bau alcohol dan desiran birahi, tapi bukan karena mereka terbelenggu oleh irama kerja dan bukan karena berkeinginan untuk mendapatkan haknya kembali atas tubuhnya sendiri. Mereka disana karena berharap disapa seseorang yang berasal dari mancanegara, dan mungkin suatu hari diajak tinggal kesana. Maka jangan bingung kalau terdampar di sebuah hamparan pantai atau sawah yang konon begitu indah, tetapi kita tak tahu musti bagaimana kecuali berpotret dan berkata bahwa tempat tersebut disukai bule. Sekaligus jangan ternganga melihat bagaimana pelacuran dan konsumsi alcohol serta obat-obatan tumbuh sumbur justru ketika pemerintah sibuk bergiat menggalakkan pariwisata. Jadi sebenarnya nilai berlibur yang bertumbuh dari program pariwisata yang diatur secara gegap gempita tak lebih dari menampung kesedihan dan kegelisahan warga negara masyarakat pekerja ketika mereka melepaskan kendali tubuh atas pikiran. Celakanya ketika secara bersama-sama kita terpuruk dalam krisis keuangan yang berkepanjangan sampai hari ini, pariwisata seperti inilah yang diharapkan akan mengembalikan keberanian kita untuk bertatap mata dengan masyarakat dunia. Jadi kalau selama lebih dari tiga setngah abad kita berada di bawah kekuasaan kolonialisme politik, maka justru ketika kita memiliki kesempatan untuk ikut bergembira dalam arus liburan, tempat yang tersedia adalah lahan bagi kolonialisme sahwat!
Posted at 08:43 pm by Noviana
Permalink
Tentang rasa Indonesia, sebuah beban budaya?
(Judul dibuat sebagai catatan paska diskusi malam "Rosebud", Sabtu
19 Maret
2005)
oleh Adi Purnomo*
Tamu diskusi malam ini, Warih Wisatsana, mulai dengan membacakan
puisi-puisi yang dibawakan di galeri Cemara
Kamis malam sebelumnya. Warih membuka diskusi dengan menyatakan tidak
hendak bercerita muasal puisinya, karena menurutnya setelah hadir di ruang khalayak, puisi itu akan bebas dimaknakan. Disini, saya tidak memaparkankan keseluruhan diskusi maupun membedah karya puisinya, tapi hanya mencatatkan bagian yang menarik bagi saya. Menjadi menarik saat Emanuel Subangun menelisik rasa bahasa dalam puisi-puisi Warih yang mengaku dibesarkan berpindah-pindah daerah tanpa mempunyai bahasa ibu, selain bahasa Indonesia. Pertanyaannya kurang lebih adalah bagaimana seorang penyair yang dibesarkan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu membentuk rumah puisinya.
Yang saya tangkap dari pertanyaan Emanuel Subangun diatas adalah adanya
keingin-tahuan yang besar (lebih terbaca sebagai keraguan atau kekawatiran) perihal apa yang bisa dicapai pada puisi-puisi, ketika bahasa Indonesia murni menjadi satu-satunya nafas penciptaan. Mengingat sejarah pembentukan bahasa Indonesia sendiri, proses pendarah dagingan dalam kurun 70 tahun ke dalam rasa bahasanya sendiri adalah terlalu singkat atau tipis untuk memungkinkan terjadinya endapan-endapan filosofis, mitologis dan sebagainya. Dalam indikasi keseharian,
ada banyak rasa bahasa dalam kosa kata bahasa daerah yang lebih mampu
menjelaskan maksud, rasa, atau suasana dibandingkan penggunaan bahasa Indonesia sendiri.
Pembicaraan dalam area ini sebetulnya sudah tersampaikan dengan sangat
jelas kalau kita membaca pidato Goenawan Mohamad pada penerimaan hadiah A. Teeuw, di Leiden tahun 1992 dengan tajuk "Kesusasteraan,Pasemon". Ada 2 kalimat yang saya kutip:
Puisi Indonesia “ yang ditulis oleh para penyair yang kehilangan
bahasa ibunya selama-lamanya, para penyair yang akhirnya gagap dalam bahasa apa pun – harus bergulat di dalam bahasa yang terancam kemiskinan itu. Bahasa yang ada masih seperti sebuah dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran “ lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama. Tapi itu, bagi para penyair Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang mungkin.
Dari sisi ini, saya sekilas melihat sebuah beban budaya yang begitu
besar bagi penyair dalam generasi Warih yang dibesarkan dalam situasi seperti ini. Ketika rasa bahasa yang ada dalam dirinya hanyalah bahasa Indonesia yang nota bene dalam diskusi ini tipis humus, apa yang bisa tercapai dari karyanya? Beban kesejarahan bahasa Indonesia memang tidak bisa ditolak menjadi bagian dari persoalan
penyair Indonesia. Indikasi kosakata pada puisi Indonesia tahun 90-an
tidak secara mencolok bertambah dibanding setengah abad lalu, apakah benar merupakan pertanda telah terdesak ke lingkaran yang lebih sempit? Diskusi malam ini tidak menyisakan waktu untuk menelisik lebih jauh karya-karya Warih sebagai model untuk menjawab pertanyaan diseputar masalah ini. Keseharian yang melahirkan karya demi karya akan menjadi bagian dari jawabannya. Saya menutup catatan ini dengan mengutip lagi pidato di Leiden :
Dengan puisi, dengan pasemon, kesusateraan menaruh kita kembali ke
dalam kesaktian dan keterbatasan, menjadi manusia – dan kita pun memilih kata kita sendiri, kediam-dirian kita sendiri, kearifan kita sendiri.
* Praktisi Arsitek
Posted at 03:15 am by Noviana
Permalink
Rosebud Reading Club with Danarto
Temans,
Rosebud Reading Club bikin pertemuan lagi, kali ini
kita coba membahas karya2 Danarto dan dihadiri oleh
beliau.
Hari : Jumat 11 Maret 2005
Jam : 19.00
Tempat: Jl KH Dahlan no 13
( depan rest belanda
samping salon Glitter)
Gandaria, Jakarta Selatan
•berhubung tempatnya sempit bisa sms ke saya ya kalo
konfirm mau datang
( Novi 0811172504)
salam tiga jari
Noviana Kusumawardhani
Note:
Danarto adalah cerpenis dengan imajinasi yang luar
biasa liar. Penuh kejutan dahsyat dan merasa di dunia
"lain". Pembaca diajak untuk mengubah cara pandang
tentang dunia, hidup dan kematian, yang kadang-kadang
bertolakbelakang dengan apa yang diajarkan guru agama.
Misalnya saja dalam cerpen Godlob yang ada tokoh
namanya Rintrik. Ketika ditanya, siapa kamu, rintrik
menjawab aku adalah benda mati. Yang saya tangkap
adalah mungkin memang dia adalah seonggok tubuh bukan
apa-apa. Karena Tuhan memberikan rahmatnya, maka dia
menjadi manusia seperti ini.
Orang-orang menyebut beraliran sufisme ( Sebuah jalan
untuk mendekatkan diri kepada Tuhan). Hampir semua
cerpenya memang berbicara tentang Tuhan. Tentang
ketiadaan. Benarkah kita itu sebenarnya tiada?
Seseorang yang namanya fanabis misalnya. Ketika
ditanya yang mana sih persisnya yang mananya fanabis,
tidak ada yang secara persis benda yang dimaksud.
Ketika yang ditunjuk dadanya, dada bukan fanabis.
Ketika dia menunjuk kepala, ternyata kepala bukan
fanabis juga. Dan fanabis itu ternyata tidak ada.
Dimana-mana tulisan danarto sudah menduania. Bahkan
disebut2 danarto sudah sampai pada taraf pujangga. Dan
banyak karyanya yang diterjemahkan ke banyak bahasa.
Tak hanya itu bahkan diterjemahkan menjadi tari dan
teater. Disamping penulis, danarto adalah pelukis
hebat.
Keunikan danarto tak hanya sebatas tema cerpennya.
Judul cerpennya pun ada yang berupa gambar-gambar.
Sehingga orang akan kesulitan menyebutkan apa judul
cerpen tersebut. Salah satu cerpennya judulnya berupa
gambar panah menembus jantung dan darah menetes di
ujungnya. Juga ketika waktu pameran lukisannya: kanvas
kosong. Dia hanya memajang keramik-keramik warna
putih.
Posted at 07:09 pm by Noviana
Permalink
|